Jumat, 06 Juli 2012

TUGAS FISIKA KEPERAWATAN

TUGAS FISIKA KEPERAWATAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG MASALAH
Biomekimia  dapat didefinisikan sebagai studi tentang gerakan yang dihasilkan oleh sistem musculoskeletal, sedangkan mekanika adalah studi tentang bagaimana sesuatu bergerak dan apa yang menyebabkan bergerak. Kedua hal ini saling berkaitan,sebagai pedoman seorang perawat. Kecermatan seorang perawat sangat menentukan kondisi klien atau pasiennya.
B.      RUMUSAN MASALAH
1.      Menjelaskan tentang mekanika tubuh
2.      Mendefinisikan traksi
3.      Mengetahui cara npengaturan posisi
4.      Mengetahui yang dimaksud dengan kesegarisan tubuh
5.      Mendeskripsikan tentang suhu, dan alat ukurnya
6.      Menjelaskan tentang sistem saraf
BAB II
PEMBAHASAN
A.     MEKANIKA TUBUH
1.      PENGERTIAN MEKANIKA TUBUH
Mekanika tubuh (Body Mechanic) adalah usaha untuk mengkordinasi sistem musculoskeletal dan saraf, sehingga individu dapat bergerak, mengangkat, membungkuk, berdiri, duduk, berbaring dan melakukan akvitas sehari-hari dengan sempurna.
Penggunaan mekanika tubuh yang tepat dapat mengurangi resiko cedera sistem musculoskeletal. Mekanika tubuh juga tepat memfasilitasi pergerakan tubuh yang memungkinkan mobilisasi fisik tanpa terjadi ketegangan otot dan penggunaan energi otot yang berlebihan. Hal-hal tersebut mencakup kesegarisan tubuh (Body Alignment), keseimbangan tubuh dan koordinasi gerakan.
2.      PRINSIP MEKANIKA TUBUH
Mekanika tubuh penting bagi perawat dan kliennya.Hal ini mempengaruhi tingkat kesehatan mereka. Mekanika tubuh yang benar diperlukan untuk mendukung tingkat kesehatan dan mencegah kecacatan serta untuk menjaga keselamatan klien. Disamping itu, mekanika tubuh juga bertujuan untuk menghibur pasien yaitu dengan meningkatkan kenyamanan dan kerjasama. Dalam hal ini, perawat menggunakan berbagai kelompok otot untuk setiap aktivitas keperawatan, memberikan obat, mengangkat, dan memindahkan klien dan menggerakan objek.
B.      TRAKSI
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasim atau spasme otot dalam usaha memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan.
Prinsip traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian tubuh., tungkai, pelvis atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada arah yang berlawanan disebut dengan countertraksi.
Penggunaan traksi telah dimulai 3000 tahun yang lalu. Suku Aztec dan mesir menggunakan traksi manual dan membuat splint dari cabang pohon.  Traksi telah menjadi sebuah ketetapan dalam management ortopedi hingga 1940 ketika fiksasi internal menggunakan nail, pin dan plate menjadi praktek yang sering. Pengembangan ini berpasangan dengan kurangnya pembedahan fraktur dengan kebutuhan ekonomi untuk perawatan rumah sakit yang lebih.
 Kita dapat menggunakan traksi : (1) untuk mendorong tulang fraktur kedalam tempat memulai, atau (2) untuk menjaga mereka immobile sedang hingga mereka bersatu, atau (3) untuk melakukan kedua hal tersebut, satunya ikuti dengan yang lain. Untuk mengaplikasikan traksi dengan sempurna, kita harus menemukan jalan untuk mendapatkan tulang pasien yang fraktur dengan aman, untuk beberapa minggu jika diperlukan. Ada 2 cara melakukan hal tersebut : (1) memberi pengikat ke kulit (traksi kulit). (2) dapat menggunakan Steinmann pin, a Denham pin, atau kirschner wir melalui tulangnya (traksi tulang).
Traksi membutuhkan waktu untuk diaplikan dan diatur, tetapi hal ini dapat dengan mudah diatur dengan asisten. Traksi kebanyakan berguna pada kaki. Di lengan hal ini masih kurang nyaman, tidak menyakinkan, sulit untuk dijaga, dan frustasi untuk pasien. Untuk kesemua alas an ini, traksi lengan hanya digunakan dalam keadaan pengecualian yang lebih jauh.
Klasifikasi traksi di dasari pada penahan tububh yang di capai:
1.      Traksi Manual, menunjukkan tahanan dorongan yang diaplikasikan terhadap seseorang dibagian tubuh yang terkena melalui tangan mereka.Traksi manual digunakan untuk mengurangi fraktur sederhana sebelum aplikasi plesrer atau selama pembedahan.
2.      Traksi Skeletal, menunjukkan tahanan dorongan yang diaplikasikan langsung ke sekeleton melalui pin, wire, atau baut dimasukkan dalam tulang. Traksi skeletal digunakan untuk fraktur yang tidak stabil, untuk mengontrol rotasi dimana berat lebih besar dari 25 kg dibutuhkan dan fraktur membutuhkan traksi jangka panjang.
3.      Traksi kulit, menunjukkan dimana dorongan tahanan diaplikasikan kepada bagian tubuh yang terkena melalui jaringan lunak.

C.      PENGATURAN POSISI
A. POSISI FOWLER
Posisi fowler dengan sandaran memperbaiki curah jantung dan ventilasi serta membantu eliminasi urine dan usus.
1. Pengertian
Posisi fowler merupakan posisi bed dimana kepala dan dada dinaikkan setinggi 45-60° tanpa fleksi lutut.
2. Tujuan
1. Untuk membantu mengatasi masalah kesulitan pernafasan dan cardiovaskuler
2. Untuk melakukan aktivitas tertentu (makan, membaca, menonton televisi)
3. Peralatan
1. Tempat tidur
2. Bantal kecil
3. Gulungan handuk
4. Bantalan kaki
5. Sarung tangan (bila diperlukan)
4. Prosedur kerja
1. Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.
2. Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikkan. Mencegah klien melorot kebawah pada saat kepala dianaikkan.
3. Naikkan kepala bed 45° sampai 60° sesuai kebutuhan. (semi fowler 15-45°, fowler tinggi 60°)
4. Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal jika ada celah disana. Bantal akan mencegah kurva lumbal dan mencegah terjadinya fleksi lumbal.
5. Letakkan bantal kecil dibawah kepala klien. Bantal akan menyangnya kurva cervikal dari columna vertebra. Sebagai alternatif kepala klien dapat diletakkan diatas kasur tanpa bantal. Terlalu banyak bantal dibawah kepala akan menyebabkan fleksi kontraktur dari leher.
6. Letakkan bantal dibawah kaki, mulai dari lutut sampai tumit. Memberikan landasan yang, lembut dan fleksibel, mencegah ketidaknyamanan akibat dari adanya hiper ekstensi lutut, membantu klien supaya tidak melorot ke bawah.
7. Pastikan tidak ada pada area popliteal dan lulut dalam keadaan fleksi. Mencegah terjadinya kerusakan pada persyarafan dan dinding vena. Fleksi lutut membantu supaya klien tidak melorot kebawah.
8. Letakkan bantal atau gulungan handuk dibawah paha klien. Bila ekstremitas bawah pasien mengalami paralisa atau tidak mampu mengontrol ekstremitas bawah, gunakan gulungan trokhanter selain tambahan bantal dibawah panggulnya. Mencegah hiperekstensi dari lutut dan oklusi arteri popliteal yang disebabkan oleh tekanan dari berat badan. Gulungan trokhanter mencegah                eksternal rotasi dari pinggul.
9. Topang telapak kaki dengan menggunakan footboart. Mencegah plantar fleksi.
10. Letakkan bantal untuk menopang kedua lengan dan tangan, bila klien memiliki kelemahan pada kedua lengan tersebut. Mencegah dislokasi bahu kebawah karena tarikan gravitasi dari lengan yang tidak disangga, meningkatkan sirkulasi dengan mencegah pengumpulan darah dalam vena, menurunkan edema pada lengan dan tangan, mencegah kontraktur fleksi pergelangan tangan.
11. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
12. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
B. POSISI SIMS
1. Pengertian
Posisi sims atau disebut juga posisi semi pronasi adalah posisi dimana klien berbaring pada posisi pertengahan antara posisi lateral dan posisi pronasi. Posisi ini lengan bawah ada di belakang tubuh klien, sementara lengan atas didepan tubuh klien.
2. Tujuan
1. Untuk memfasilitasi drainase dari mulut klien yang tidak sadar.
2. Mengurangi penekanan pada sakrum dan trokhanter besar pada klien yang mengalami paralisis
3. Untuk mempermudahkan pemeriksaan dan perawatan pada area perineal
4. Untuk tindakan pemberian enema

3. Peralatan
1. Tempat tidur
2. Bantal kecil
3. Gulungan handuk
4. Sarung tangan (bila diperlukan)
4. Prosedur kerja
1. Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.
2. Baringkan klien terlentang mendatar ditengah tempat tidur. Menyiapkan klien untuk posisi yang tepat.
3. Gulungkan klien hingga pada posisi setengah telungkup, bagian berbaring pada abdomen
4. Letakkan bantal dibawah kepala klien. Mempertahankan kelurusan yang tepat dan mencegah fleksi lateral leher.
5. Atur posisi bahu sehingga bahu dan siku fleksi
6. Letakkan bantal dibawah lengan klien yang fleksi. Bantal harus melebihi dari tangan sampai sikunya. Mencegah rotasi internal bahu.
7. Letakkan bantal dibawah tungkai yang fleksi, dengan menyangga tungkai setinggi pinggul. Mencegah rotasi interna pinggul dan adduksi tungkai. Mencegah tekanan pada lutut dan pergelangan kaki pada kasur.
8. Letakkan support device (kantung pasir) dibawah telapak kaki klien. Mempertahankan kaki pada posisi dorso fleksi. Menurunkan resiko foot-drop.
9. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

D.      KESEGARISAN TUBUH
Kesegarisan tubuh (body alignment) atau postur merupakan istilah yang sama dan mengacu pada posisi sendi, tendon, ligament, dan otot selama berbaring. Kesegarisan tubuh yang benar mengurangi ketegangan pada struktur muskusloskeletal, mempertahankan tonus (ketegangan) otot secara kuat dan menunjang keseimbangan.
Dalam mempertahankan kesegarisan tubuh yang tepat, dan memindahkan klien dengan aman dari tempat tidur ke kursi atau dari tempat tidur ke brankar.
Adapun faktor yang mempengaruhi kesegarisan tubuh:
1.      Status kesehatan
Perubahan status kesehatan dapat menimbulkan keadaan yang tidak optimal, terdapat organ atau bagian tubuh yang mengalami kelelahan atau kelemahan sehingga dapat memengaruhi pembentukan postur tubuh.
2.      Nutrisi
Nutrisi merupakan bahan untuk menghasilkan yang digunakan dalam membantu proses keseimbangan organ, otot, tendon, ligament, dan persendian. Apabila status nutrisi kurang, kebutuhan enegi pada organ tersebut juga akan berkurang, sehingga dapat mengganggu proses keseimbangan.
3.      Emosi
Emosi dapat menyebabkan kurangnya kendali dalam menjaga keseimbangan tubuh. Hal tersebut dapat mempengaruhi proses koordinasi pada otot, ligament, sendi, dan tulang.

4.      Faktor social
5.      Gaya hidup (life style)
Perilaku gaya hidup seseorang dapat membuat seseorang menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi lebih buruk. Seseorang yang mempunyai gaya hidup yang tidak sehat misalnya selalu menggunakan alat bantu dalam melakukan kegiatan sehari-hari, dapat mengalami ketergantungan sehingga postur tubuh tidak berkembang dengan baik.
6.      Perilaku dan nilai-nilai
Adanya perubahan perilaku dan ilai seseorang dapat memengaruhi postur tubuh. Sebagai contoh, perilaku dalam membuang sampah di sembarang tempat dapat mempengaruhi proses pembentukan postur tubuh orang lain yang berupaya untuk selalu bersih dari sampah.

E.      SUHU
1.      Pengertian Suhu
Apa yang kamu rasakan jika jari kamu dimasukkan ke dalam air es? Ya, air es akann terasa dingin. Dingin boleh dikatakan sebagai salah satu ukuran dari duhu suatu benda. Benda yang dingin mempunyai suhu yang lebih rendah dari benda yang panas. Dari pernyataan ini suhu dapat didefinisikan sebagai derajat/tingkatan panas suatu benda atau kuantitas suatu benda. Seperti dalam materi sebelumnya, suhu merupakan salah satu besaran pokok dengan satuan derajat Kelvin.
2.      Alat Ukur Suhu
Untuk menentukan panas atau tidaknya suatu benda, kita dapat menggunakan jari tangan kita, tetapi tangan tidak dapat dipakai untuk menentukan tinggi panas suatu benda secara tetap. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah termometer.
·         Berdasarkan zat termometriknya, termoneter dapat dibedakan menjadi
1)      Termometer Zat Padat
      Termometer zat padat menggunakan prinsip perubahan hambatan logam konduktor terhadap suhu sehingga sering juga disebut sebagai termometer hambatan. Biasanya termometer ini menggunakan kawat platina halus yang dililitkan pada mika dan dimasukkan dalam tabungan perak tipis tahan panas. Contohnya termometer platina
2)      Termometer Zat Cair
Termometer zat cair dibuat berdasarkan perubahan volume. Zat cair yang digunakan biasanya raksa atau alcohol. Contoh Termometer Farenheit, Celcius, Reamur.

3)      Termometer Gas
Termoter gas menggunakan prinsip pengaruh suhu terhadap tekanan. Bagian alat ini sama seperti nanometer. Pipa U yang berisi raksa mula-mula permukaannya sama tinggi. Jika salah satu ujungnya dihubungkan dengan ruangan yang berisi gas bertekanan, maka gas pada volume gas tetap.
·         Termometer berdasarkan pembuatnya :
1)      Termometer celcius (Ander Celcius)
2)      Termometer Fahrenheit (George Fahrenheit)
3)      Termometer Reamur (Rene Reamur)
4)      Termometer Kelvin (Thomson Kelvin)

F.       SEL SARAF
Sel saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf memungkinkan mahluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Untuk menanggapi rangsangan, ada 3 komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu:
·         Resptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak sebagai reseptor adalah organ indera
·         Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron
·         Efektor, adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh penghantar impuls. Efektor yang paling penting pada manusia adalh otot dan kelenjar
Ada 3 macam sel saraf yang dikelompokkan berdasarlkan struktur dan fungsinya, yaitu
a.      Sel saraf sensorik, adalah sel yang berfungsi menerima rangsangan dari reseptor atau indera
b.      Sel saraf motorik, adalah sel saraf yang  berfungsi mengantarkan rangsangan ke efektor yaitu otot dan kelenjar. Rangsangan yang diantarkan berasal atau diterima dari otak dan sumsum tulang belakang
c.       Sel saraf penghubung, adalah sel saraf yang berfungsi menghubungkan sel saraf satu dengan sel saraf lainnya. Sel saraf ini banyak ditemukan di otak dan sumsum tulang belakang. Sel saraf yang dihubungkan adalah sel saraf sensorik dan sel saraf motorik
Adapun susunan sistem saraf
a.      Sistem saraf pusat
·         Otak, merupakan alat tubuh yang sangat penting dan sebagai pusat pengatur dari segala kegiatan manusia.
·         Sumsum tuklang belakang, berfungsi sebagai penghantar impuls dari otak dank e otak serta sebagai pusat pengatur gerak reflex
b.      Sistem saraf tepi
·         Sistem saraf somatis, menghantarkan informasi antar kulit, sistem saraf pusat, dan otot-otot rangka. Sistem saraf somatic terdiri atas 12 pasang saraf cranial dan 31 pasang sarf sumsum tulang belakang
·         Sistem saraf otonom, mengatur kerja jaringan dan organ tubuh yang tidak disadari atau tidak dipengaruhi  oleh kehendak kita. Sistem saraf otonom terdiri atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik

BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa aplikasi biomekanika sangat penting untuk diterapkan dalam dunia keperawatan, diantarnya mekanika tubuh, traksi, pengaturan posisi, dan kegarisan tubuh. Dimana seorang perawat harus mengetahui penerapannya
B.      SARAN
Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini, agar makalah ini dapat lebih sempurna dan menjadi pedoman untuk kita semua

DAFTAR PUSTAKA

satuan acara penyuluhan (just contoh yah )

Tugas ikd
Satuan acara penyuluhan
(sap)
Oleh
ARIAN ANDRI
C 11
11.1101.115
Fakultas ilmu keperawatan
Uniersitas Indonesia timur
Makassar
2011

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )
·        Topik       : penyakit gastritis
·        Waktu     : 60 menit
·        Sasaran   : warga di BTN Minasa Upa blok AB 13
v Tujuan instruksi umum: setelah mengikuti semua kegiatan penyuluhan  tentang gastritis, diharapakan semua warga dapat mengetahui apa itu gastritis.
v Tujuan instruksi khusus:
Setelah mengikuti semua kegiatan penyuluhan gastritis diharapkan dapat mengerti tentang:
1.      Pengertian gastritis
2.      Penyebab terjadinya gastritis
3.      Tanda dan gejala gastritis
4.      Cara pencegahan gastritis
5.      Makanan pantangan bagi penderita gastritis
6.      Pengobatan tradisional untuk gastritis
v Materi  penyuluhan :
1.      Pengertian gastritis dan penyebab serta pencegahan/pengobatan
2.      Obat-obatan tradisional yang dapat digunakan untuk membantu penyembuhan penyakit gastritis
v Metode penyuluhan:ceramah dan Tanya jawab dengan peserta
v  Media : LCD, mikrofon, dan materi yang dibagikan kepada peserta
v Evaluasi : pertanyaan secara lisan dengan butir-butir pertanyaan:
-          Apakah itu pengertian gastritis ?
-          Apa penyebab gastritis itu ?
-          Bagaimana tanda dan gejala pada penderita gastritis ?
-          Bagaimana cara mencegah penyakit gastritis ?
-          Makanan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita gastritis ?
-          Bagaimana cara pengobatan secara tradisional untuk penderita gastritis ?
v Waktu: minggu, 31 desember 2011
v Sumber:
-          ASKEP gastritis
-          Internet

HII WORLD